Selasa, 13 Mei 2014

Kujang, Pusaka Leluhur yang 'Disembunyikan'


Inilah.com/Dicky Nawazaki

INILAH.COM, Bandung - Sebagai benda pusaka dari para leluhur, keberadaan kujang tidak seperti keris yang terekspose, terbuka, bahkan telah mendunia.

Kujang memang istimewa. Keberadaannya disembunyikan. Pelestari kujang, Budi ‘Dalton’ Setiawan menyebutkan, kujang itu tidak sembarang diperlihatkan ke banyak orang. Selain tersembunyi penuh misteri, kujang itu cenderung disembunyikan si empunya.

Kenapa? el Presidente Bikers Brotherhood Bandung itu membeberkan kepadaINILAH.COM saat ditemui di kediamannya, Jalan Reog, Lengkong, Kota Bandung, Selasa (10/9) malam. Meski memiliki banyak koleksi berbagai jenis kujang, dia enggan disebut kolektor.

“Saya ini bukan kolektor. Saya hanya mencoba untuk melestarikannya, ya, pelestari. Bukan kolektor, karena kolektor itu diasumsikan lebih ke uang,” kata Ketua Jurusan Seni Musik Fakultas Ilmu Seni dan Sastra Universitas Pasundan (Unpas) itu.

Perkataan itu bukan hanya sekadar teori. Kenyataan empiris di lapangan memberikan pengalaman berharga baginya. Sejak 2003 silam, dia berkunjung ke berbagai kabuyutan yang ada di Jawa Barat. “Kujang itu mendapat perlakuan khusus. Meski para sesepuh di tatar Sunda itu memiliki, mereka tidak sembarang memperlihatkan kujangnya,” ucapnya.

Koleksi kujang baru diperlihatkan ketika para sesepuh itu benar-benar yakin, orang yang mau melihat kujang punya niat baik. Minimal, memiliki cukup wawasan tentang kujang.

Sebagian besar, kujang yang kini mencapai ratusan bilah itu merupakan titipan para sesepuh. Makanya, dia mengetahui persis dari mana asal-usul kujang itu didapatkan. Dia menyebutkan, dari sekian banyak kujang yang terungkap ke permukaaan itu artefaknya baru 10%.

“Dan itu karena memang disembunyikan. Bagi saya, kujang bukan sekadar senjata pusaka. Kujang merupakan simbol ajaran ketuhanan tentang asal-usul alam semesta yang dijadikan dasar konsepsi sistem ketatanegaraan Sunda purba. Bentuknya merupakan manifestasi wujud manusia sebagai ciptaan yang sempurna. Wujud kujang merupakan manifestasi alam semesta,” tuturnya.

Dengan meneliti kujang, Budi bahkan yakin kalau istilah Sunda bukan sekadar penyebutan terhadap suku bangsa yang mendiami sebelah barat Pulau Jawa. Kujang sendiri merupakan simbol nilai-nilai luhur ajaran Sunda.

“Ketika simbol-simbol itu sulit ditemukan, akan sulit bagi kita buat menelusuri dan mempelajari ajaran tersebut. Apalagi sejak abad ke-15 artefak kujang maupun catatan tentang kujang sudah sangat jarang ditemui. Kemungkinan ada pihak tertentu yang sengaja melenyapkan. Cerita tutur yang sering dijadikan acuan tentang kujang hanya Pantun Bogor,” jelasnya.

Alasan lain mengenai kecendrungan kujang disembunyikan itu karena orang yang memilikinya bukan orang sembarang. "Dalam konsep strata tritangtu itu ada rama, ratu, dan resi. Di mana sebagai orang yang tergolong resi itu disimbolkan dengan keris. Sedangkan, kujang itu dimiliki pemimpin wilayah (ratu) yang menyimbolkan kedaulatan. Sifatnya lebih personal di mana kujang itu hanya dipegang oleh mereka yang memiliki kekuasaan,” urainya.

Terkait alasan disembunyikan, Budi menyebutkan itu dikarenakan Kerajaan Pajajaran runtuh pada abad ke-15. “Walaupun mereka punya, si pemilik kujang itu cenderung tidak menunjukkan. Toh, Pajajaran sudah runtuh,” imbuhnya.

Selain itu, kujang sebagai pusaka diakuinya bukan sesuatu yang harus dipertontonkan. Bahasa Sundanya, kujang itu lain pintonkeuneun tapi lakonkeuneun.

Dikarenakan maknanya yang menyiratkan itu pula Budi menyebutkan, kujang merupakan pisau bedah analisa ketatanegaraan Kerajaan Sunda Purba. Sebab, pada bilah kujang itu terdapat kodifikasi dan banyak petunjuk terkait perunutan sejarah.

Lubang yang ada pada bilah kujang itu diakuinya memiliki makna tersendiri. Jumlah lubang itu disesuaikan dengan kemandalaan atau area si pemilik kujang itu berada. Banyaknya lubang itu pun merupakan personifikasi proses kelahiran yang dikenal di suku Sunda. Secara singkat, dia menjelaskan lubang satu itu menandakan si pemilik kujang itu berada di kamandalaan kasungka.

“Kujang dengan lubang satu itu banyak terdapat di luar Jawa, seperti di Bali. Lubang dua seba, lubang tiga jati, lubang empat agung, lubang lima saman, lubang enam wenang, lubang tujuh wening, dan lubang sembilan hyang. Dalam kosmologi Sunda, mereka tidak mengenal adanya delapan. Makanya, enggak ada kujang yang lubangnya delapa,” tutur Budi.

Saat ditanya mengenai apa arti kata kujang itu sendiri, Budi mengatakan itu sangat panjang ceritanya. Usai meneliti kujang koleksinya, dia memiliki catatan sendiri tentang beragam fungsi kujang. Sebagian besar telah tercantum dalam Pantun Bogor.

Dilihat dari fungsinya, pusaka ini terbagi dalam kujang pusaka (lambang keagungan dan pelindungan keselamatan), kujang pakarang (alat berperang, buat menangkis serangan), kujang pangarak (alat upacara adat), kujang pamangkas (sekarang masih dipakai alat berladang), dan kujang sajen (alat upacara adat).

Berdasarkan bentuk bilahnya, pusaka itu terbagi dalam kujang Jago, Badak, Ciung, Kuntul, Naga, Geni, Bangkong, Buta, Lanang, Balati, dan Kujang Daun. Bentuk kujang itu ada di antara ratusan kujang yang disimpan dan dilestarikan Budi.

Wajar, Calon wali kota Bandung 2013-2018 itu ikut andil pada Pameran Kujang yang digelar di Museum Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat. Pameran itu digelar Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jabar 7-12 September 2013.

Pameran kujang itu sekaligus sosialisasi jenis kujang yang akan diberi perlindungan hak atas kekayaan intelektual (HAKI). Dari sekian banyak jenis itu, ada tujuh jenis kujang yang akan didaftarkan HAKI. Yakni, kujang Ciung, Kuntul, Badak, Bangkong, Naga, Geni, Wayang, dan Jago.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengajukan hal tersebut dilakukan agar tak diklaim oleh negara lain. Dengan kata lain, itu sebagai upaya pencegahan dari tindakan klaim sepihak di kemudian hari.

Tim Gugus Tugas HAKI Warisan Budaya Jabar memutuskan, untuk pertama kalinya yang terpilih sebagai karya budaya Jabar yang akan dilakukan proses perlindungan adalah kujang. Pelestarian kujang itu menempati urutan pertama prioritas penanganan.

Selain menampilkan kujang koleksi Museum Sri Baduga dan Museum Prabu Geusan Ulun Sumedang, sebagian besar Disparbud Jabar meminjam beberapa koleksi pribadi. Di antaranya milik Gun Gun Gunardi, Tedi Permadi, Rachmat Taufik Hidayat, Wahyu Affandi Suradinata, Budi Setiawan, dan Aris Kurniawan.

Sumber:

Fakta Tentang Matahari


Fakta Tentang Matahari

Sun20Extreme Facts About The Sun

















Semua orang tahu bahwa matahari terbit setiap pagi dan menetapkan setiap malam,
tetapi tidak banyak orang yang tahu betapa pentingnya matahari bagi kita. Ini sebenarnya
bintang-lebih dekat ke Bumi daripada bintang lainnya, yang membuatnya bersinar jauh
lebih besar dan lebih terang dari bintang-bintang yang kita lihat di malam hari. Energi dari
itu memungkinkan kehidupan untuk berkembang di Bumi, tanpa itu, tidak akan bisa tinggal
di sini

Matahari adalah salah satu dari miliaran bintang. Matahari adalah bintang terdekat dengan Bumi.
Matahari berputar sekali setiap 27 hari. Matahari sekarang menjadi bintang setengah baya, yang
berarti itu adalah pada sekitar pertengahan hidupnya. Matahari terbentuk selama empat setengah
miliar tahun yang lalu. Anda mungkin berpikir matahari akan segera mati, tetapi akan terus bersinar
setidaknya selama lima miliar tahun.


Permukaan Matahari

structure sun 2 Facts About The Sun

























Permukaan matahari disebut fotosfer. Suhu fotosfer adalah sekitar 10.000 ° Fahrenheit. Utamanya berada
di bawah atmosfer. Suhu pada intinya, atau sangat tengah, Matahari, sekitar 27 juta ° Fahrenheit. Itu cukup
panas!


Ukuran Matahari 





















Diameter Matahari adalah sekitar 870.000 mil lebar. Matahari adalah 109 kali lebih lebar dari Bumi,
dan 333.000 kali lebih berat. Itu berarti jika Anda menempatkan Matahari pada skala, Anda akan
membutuhkan 333.000 benda yang berat sebanyak Bumi di sisi lain untuk membuatnya seimbang.


Matahari hanyalah salah satu dari lebih dari 100 miliar bintang. Pada zaman kuno, orang-orang percaya

Matahari adalah bola pembakaran api diciptakan oleh para dewa. Kemudian, orang-orang berpikir itu
adalah benda padat, atau bola cair. Lebih dari satu juta Bumi bisa muat di dalam Matahari. Melihat
langsung pada Matahari secara permanen dapat merusak mata Anda karena itu begitu cerah. Sebuah
bintang sebagian besar mengeluarkan cahaya dan panas. Semakin besar bintang, panas suhunya. Sebuah
bintang super-raksasa bisa menjadi 400 kali lebih besar dari Matahari, yang hampir satu juta mil dengan
diameter. Sun dimiringkan.


Perbandingan Matahari Dengan Planet 
  
79340 f520 Facts About The Sun
Perbandingan matahari dengan planet lain





















Tanpa Matahari, Bumi tidak bisa mendukung kehidupan. Matahari mengeluarkan panas dan cahaya yang
dibutuhkan Bumi untuk mendukung kehidupan (kita). Jika Anda tinggal di Matahari, dan Anda membangun
pesawat ruang angkasa, itu akan harus pergi ke 618,2 kilometer per detik untuk melarikan diri tarikan
gravitasi Matahari. Matahari adalah 695.000 kilometer di khatulistiwa. Matahari adalah massa terbesar di
tata surya kita.


Loop Matahari

Loop Matahari































Loop matahari besar disebabkan oleh magma Sun (batuan cair) melesat dari permukaan Matahari.
Loop ini bisa terbang jutaan kilometer ke ruang angkasa. Matahari adalah sekitar 25.000 tahun cahaya
dari inti galaksi galaksi kita (Bima Sakti). Hal ini seperti bintang yang sangat besar. Ini adalah satu
juta kali lebih besar dari yang terbesar.


Bintang Matahari Dibandingkan dengan Bintang Lain
  
size of earth 4 Facts About The Sun
Bintang Matahari Dibandingkan dengan Bintang Lain
Tahukah Anda bahwa Matahari terbuat dari hidrogen 92%, 7% helium dan sisanya adalah gas lainnya jumlah
yang rendah? Inti Matahari adalah bagian terpanas dari materi nya. Ini adalah 27 miliar ° Fahrenheit.
Matahari tidak terbit atau tenggelam. Itu hanya tampak seperti itu tidak karena Bumi bergerak. Bumi
mengorbit Matahari setiap hari ruang 365. Dapatkah Anda percaya bahwa Matahari dapat membakar lebih
dari tujuh juta ton gas alam setiap detik? Sebuah bintang dapat hidup selama lebih dari tiga miliar tahun.
Jika Matahari adalah berongga, Anda bisa muat 333.000 Bumi dalam! Matahari berputar, juga. Berputar
setiap 25-36 hari. Tampaknya seolah-olah bintang selalu tinggal di malam posisi yang sama demi malam,
tahun demi tahun, tetapi mereka benar-benar bergerak dari waktu ke waktu. Mereka membantu para
ilmuwan untuk mengembangkan sistem referensi untuk memetakan gerakan planet.
  

Matahari yang Memberikan Cahaya ke Bulan

sun stereo 4dec2006 lrg Facts About The Sun
Cahaya Matahari





































Bulan tidak mengeluarkan cahaya sendiri. Ini adalah Matahari yang memberikan cahaya ke Bulan. Bulan

memantulkan cahaya Matahari. Sebuah bintang adalah satu-satunya badan di ruang angkasa yang
memancarkan cahaya sendiri, segala sesuatu yang lain memantulkan cahaya dari bintang terdekat.
Dapatkah Anda percaya bahwa itu adalah lebih dari 4,24 tahun cahaya ke bintang terdekat? Tahukah
Anda bahwa sekitar 65% dari semua "bintang" sebenarnya bintang ganda? Mereka adalah bintang-bintang
yang terlihat seperti satu, tetapi jika dilihat melalui teleskop, mereka sebenarnya dua bintang.
Bintang bervariasi dalam ukuran. Mereka dapat sekecil 7.000 mil di diameter, atau sama besar dengan
900 miliar mil dengan diameter. Beberapa bintang perubahan kecerahan selama periode waktu. Mereka
melakukan hal ini ketika suhu bintang secara dramatis turun. Bintang-bintang ini disebut Bintang Variabel.


Sumber : http://monster-bego.blogspot.com/2012/11/fakta-tentang-matahari.html#ixzz31eyqSEDW

kajian hakikat diri

http://www.myrazano.com/kajian-hakikat-diri/mengenal-hakikat-diri-kajian-pengantar.html

Sastra Jenra (Sajen)


Sampurasun ..
Banyak anak nusantara yang meninggalkan ajaran Leluhurnya terutama ritual sakral mensyukuri atas hasil bumi yang telah Tuhan berikan. Salah satunya SASTRA JEN RA HAYU NING RAT PANGRUWAT ING DIYU atau kita kenal sebagai “Sajen”. Banyak orang mengira ritual tersebut ritual orang musrik, padahal mereka belum paham makna atau nila-nilai yang terkandung di dalam nya. Entah ajaran mana yang salah tapi tentunya tidak ada ajaran yang mengajarkan untuk salah. Saya banyak belajar dengan makna-makna yang terkandung didalam nya. Lebih menghargai alam dan lebih mensyukuri apa yang telah Tuhan berikan dan tidak melupakan ajaran Nene Moyang kita tentunya. Karena beliau kita masih bisa menikmati hasil bumi Nusantara ini.

Filosofi Sastra Jen Ra Hayu ning Rat Pangruwat ing Diyu (sesajen)

disampaikan oleh: Mbah Uci (LQ Hendrawan)
Bumi Dega, Dago 401
Oktober 2012
RANGKUMAN 
——————
Agar mudah dipahami, saya mengumpamakan bahwa LANGIT / AKASA itu ibaratKERTAS HITAM KOSONG, lalu Yang Maha Kuasa mencorat-coret langit dengan berbagai SINAR yang BERCAHAYA, dan kelak leluhur bangsa kita menyebut semua itu sebagai TATA-SURYA. Kesatuan seluruh Tata-Surya dengan segala pola watak kehidupannya disebut sebagai JAGAT AGUNG atau Jagat Raya… ya termasuk planet Bumi tempat tinggal kita (tumbuhan, satwa, manusia, dll.)
Galaxy
Galaxy
Jagat Awung
Jagat Awung
Jadi singkatnya kita bagi 3 saja :
1. Langit yang hitam pekat diupamakan sebagai “kertas kosong”.
2. Galaxy / gugusan bintang-bintang dgn segala isinya diupamakan sebagai “tulisan / coretan”.
3. Pola watak dari kesatuan semesta kehidupan diupamakan sebagai “nilai ungkap / makna ciptaan / daya kehidupan”.
Berdasarkan ‘pola’ tersebut di atas, tentu kita sepakat bahwa Yang Maha Kuasatelah menciptakan suatu maha karya SASTRA di Jagat Agung ini dalam berbagai rupa, bentuk, watak, warna, ukuran, waktu, dsb. yg mustahil dapat kita sebutkan satu-persatu.
Hal tersebut ditiru oleh manusia, maka lahirlah “sastrawan” yang melakukan sebuah usaha untuk menciptakan (*cipta = pikir) karya-karya dalam bentuk tulisan melalui susunan aksara dgn maksud untuk “mengungkapkan keindahan di Jagat Agung”…. Tentu saja begitu, sebab manusia tidak mampu membuat “benda hidup bernyawa dan berwatak”. Kelak di jaman modern lahirlah berbagai jenis karya sastra, seperti; Sastra Tulis, Sastra Bunyi, Sastra Gerak, Sastra Gambar, dsb. yg semuanya berwatak IMITASI / TIRUAN / METAFORA / PALSU…dst. …………dengan demikian segala yang berupa TULISAN (*susunan aksara) SUDAH PASTI ASLI BUATAN MANUSIA… sebab Tuhan tidak pernah membuat “aksara”.
Segala KARYA SASTRA hasil daya cipta YANG MAHA KUASA itulah sesungguhnya yang layak disebut sebagai KITAB SUCI, yang benar-benar hidup dan memberikan kehidupan bagi semesta, serta suci dari segala kebohongan dan sama-sekali tidak ada cacat-celanya… KITAB SUCI itulah yang seharusnya DIBACA dan dipahami dengan sebenar-benarnya, sebab SEGALA HASIL DAYA CIPTA YANG MAHA KUASA ITU SAMA SEKALI TIDAK ADA YANG SAMA… tapi manusia lebih memuja dan menghormati KITAB YANG GAMPANG DISOBEK danMUDAH DIMUSNAHKAN… pun mudah diselewengkan… pun diperbanyak oleh penerbit dan percetakan… :)
SASTRA JEN RA HAYU NING RAT PANGRUWAT ING DIYU yg dikenal saat ini pada mulanya berasal dari kata :
1. Su-Astra Aji Ra Hayu ning Rat Pangruwat ing Diyu (*…… lalu berobah menjadi….)
2. Sastra Ajian Ra Hayu ning Rat Pangruwat ing Diyu (*…… lalu berobah menjadi….)
3. Sastra Jen Ra Hayu ning Rat Pangruwat ing Diyu (*…… lalu berobah menjadi….)
4. Sastra Jenra Hayu ning Rat (*…… lalu berobah menjadi….)
5. Sastra Jenra (*…… lalu berobah menjadi….)
6. Sasajen (*…… lalu berobah menjadi….)
7. Sajen… (*istilah ini lebih kita kenal pada saat sekarang)
Bila kita kaji berdasarkan yang pertama (no. 1) sebagai wiwitannya hal itu mengandung arti sebagai berikut :
1. SU-ASTRA = CAHAYA SEJATI = …setara dgn ILMU PENGETAHUAN.
2. AJI / AJIAN / JEN = …sesuatu yang harus dimengerti dan dipahami hingga sari-patinya.
3. RA HAYU = … Sinar / Penerang Selamat dan Sejahtera.
4. NING RAT = …bagi Jagat Semesta.
5. PANGRUWAT = …untuk memunahkan / menghapus / menghilangkan / menghindari
6. ING DIYU = …kebodohan / ketidak-tahuan / keragu-raguan / kebingungan / kemang-mangan / ketidak-yakinan.
Maka jelas, bahwa Sastra Jen Rahayu ning Rat Pangruwat ing Diyu itu jika diterjemahkan (bebas) akan mengandung makna sebagai berikut :
” ILMU PENGETAHUAN YANG HARUS DIMENGERTI & DIPAHAMI agar SELAMAT SEJAHTERA BAGI JAGAT SEMESTA KEHIDUPAN UNTUK MEMUNAHKAN KEBODOHAN “.
……..atau……..
” TULISAN yang YANG MAHA KUASA yang HARUS DIMENGERTI & DIPAHAMI agar menjadi PENERANG, SELAMAT & SEJAHTERA BAGI KEHIDUPAN DI JAGAT RAYA agar TERHINDAR DARI KEBODOHAN “
SESAJEN (Sastra Jen Rahayu ning Rat Pangruwat ing Diyu), merupakan karya SASTRA hasil karya daya cipta para leluhur bangsa kita yang TIDAK MEMPERGUNAKAN AKSARA, melainkan dengan cara “meminjam” karya SASTRA hasil daya cipta YANG MAHA KUASA untuk berbicara / menyampaikan pesan (berkomunikasi) kepada segala lapis kehidupan di Jagat Agung (multi dimensi). Hal ini tentu saja dilakukan karena KESADARAN bahwa; LIDAH MANUSIA terlalu kecil untuk “berbicara” kepada Jagat Agung (*apalagi kepada Yang Maha Kuasa), dan itu artinya para leluhur bangsa kita sangat memahami bahwa bahasa LISANataupun TULISAN (aksara) senyatanya TIDAK DAPAT MEWAKILI REALITAS APAPUN… dengan demikian PUNAHLAH KESOMBONGAN MANUSIA….
Kaya Sastra Yang Maha Kuasa
Kaya Sastra Yang Maha Kuasa
Karya Sastra Yang Maha Agung
Karya Sastra Yang Maha Agung
Karya Sastra Sang Maha Pencipta
Karya Sastra Sang Maha Pencipta
Tentu kita semua sepakat, bahwa hingga hari ini tidak ada satu orang manusiapun yang mampu membuat: sebutir padi , setangkai bunga, setetes air, seberkas api, sebutir garam, dst.” …. dilain pihak “bahasa” yang dipergunakan dapat dipahami oleh berbagai kalangan : tua-muda, laki-perempuan, berbagai bangsa… misalnya : GULA, setiap bangsa punya sebutan yg berbeda, namun semua dapat merasakan RASA YANG SAMA… dilain pihak RASA MANIS itu hingga hari ini belum ada yang mampu membahasakannya dgn tepat dan benar… ia begitu “apa adanya”.
4 Unsur Bahasa Utama
4 Unsur Bahasa Utama
Pada dasarnya Sesajen berisi 4 unsur bahasa utama yaitu; API – UDARA – AIR – dan TANAH, lalu ditambah dengan berbagai rupa silib-siloka yang terdiri dari benda-benda alam… yang jelas kesemua itu sama sekali BUKAN HASIL DAYA CIPTA MANUSIA… MANUSIA HANYA MENYUSUNNYA…!!! (*ya seperti susunan aksara menjadi kata, dan seperti susunan kata menjadi kalimat…dst.)
Berdasarkan atas KESADARAN TERTINGGI, bahwa Jagat Agung ini terdiri dari berbagai mahluk, bahwa kehidupan ini mimiliki ruang dan waktu serta kejadiannya masing-masing, bahwa alam semesta itu sangat luas, bahwa rasa itu tidak terjabarkan, bahwa keindahan itu ada dengan sendirinya…dst. maka diperlukan suatu alat (media) yg dapat dimengerti dan dipahami secara multi dimensi untuk saling berbicara… untuk saling bersaudara… untuk saling menjaga keselamatan dan saling mensejahterakan, saling mengasihi dalam damai….
Berdasarkan atas KESADARAN TERTINGGI, bahwa manusia itu BODOH danSOMBONG… bahwa otak dan daya cipta serta LIDAH MANUSIA untuk berbicara itu sangat penuh keterbatasan / banyak salah / banyak perbedaan maka dibuatlah sebuah karya sastra (*mini) yang dapat dimengerti dan dipahami olehSEGALA MAHLUK DISEGALA RUANG DAN WAKTU… dan kelak bangsa kita menyebutnya sebagai SASTRA JEN RA HAYU NING RAT PANGRUWAT ING DIYU… maka dengan selayaknya ia didudukan sebagai IBU DARI SEGALA BAHASA (*BAHASA IBU).
Sastra Jen Rahayu ning Rat Pangruwat ing Diyu adalah karya sastra (kitab suci) bangsa yang mempergunakan HURUP (bukan “aksara”) — HIRUP, HURIP, HURUP yang diperoleh dari hasil daya cipta Yang Maha Kuasa di Jagat Agung (jagat raya)… oleh seba itu ” BACALAH…!!! “
SASTRA JEN RA HAYU NING RAT PANGRUWAT ING DIYU
SASTRA JEN RA HAYU NING RAT PANGRUWAT ING DIYU
SASTRA JEN RA HAYU NING RAT PANGRUWAT ING DIYU
CATATAN :
————
Jika anda membuat karya SASTRA (Sastra Jen Rahayu ning Rat Pangruwat ing Diyu) atau SAJEN… susun dan tempatkan ditempat yang layak dan sebaik mungkin, sebab karya sastra yang anda buat itu dipinjam dari maha karya YANG MAHA KUASA… jadi jangan direndahkan dan tidak boleh disepelekan… artinya, JANGAN MERENDAHKAN DIRI ANDA SENDIRI DI HADAPAN JAGAT RAYA & YANG MAHA PENCIPTA… _/|\_
KESIMPULAN :
—————–
SASTRA JEN RA HAYU NING RAT PANGRUWAT ING DIYU adalah penanda BANGSA YANG MENGERTI & MEMAHAMI KESUSASTRAAN TINGKAT TINGGI… DAN MELAMBANGKAN TINGKAT KECERDASAN, KEBUDAYAAN DAN KEBERADABAN SUATU BANGSA…!
Semoga catatan ini berguna bagi bangsa yang sedang kehilangan KEBERADABAN DIRINYA.
Tabe Pun,
_/|\_
Rahayu Sagung Dumadi

Sumber:

NGERTAKEUN BUMI LAMBA (Sacred Sing and Tari in Prise)


Kita bukan bangsa yang berebut benar sendiri sendiri. Beragam agama dan kepercayaan. Apalah artinya saling berebut benar dalam hanya tata cara menyembah kepada yang maha kuasa sang pencipta alam semesta, tanpa ia mampu mempersembahkan cinta kasihnya kepada sesama mahkluk. Sersembahan adalah wujud terimakasih kita untuk kita semua sebagai mahkluk hidup yang terikat dan menyatu dengan alam dan lingkungan bumi rumah kita bersama.
Ini adalah sebuah Upacara tahunan dilaksanakan di sekitar wilayah Gunung Sunda Purba (saat ini ditentukan berpusat pada Gunung Tangkuban Parahu), di gelar bertepatan dengan perjalanan matahari yang baru mulai kembali dari paling utara bumi menuju selatan, yaitu di setiap bulan ‘kapitu’ ( bulan ke 7 ), dalam hitungan Suryakala, kala-ider ( kalender ) Sunda.
Bersama mengekspresikan sembah kepada yang telah memberi kehidupan dengan cara menghaturkan beragam keindahan rasa persembahan, hasil bumi, lantunan mantera, musik sakral dan tarian. Intinya adalah berterima kasih kepada asal muasal keberadaan diri di alam ini.

Mengingatkan kepada setiap kita bahwa kesucian gunung adalah sumber utama mahluk di sekitar gunung tersebut, gunung adalah Pakuan bumi di semesta ini, gunung menjadi sumber nilai spiritual dan budi pekerti yang mendasari perilaku yang berbudaya bagi umat manusia di muka bumi, sebagaimana nama SUNDA yang melekat pada Gunung Tangkuban Parahu ( Purba Kancana Parahyangan ).

Dengan diadakannya upacara ini, maka dampak lainnya adalah, untuk masyarakat, begitu juga pemerintah akan sadar, bahwa karena gunung ini sumber air, maka kelestarian hutannya harus dijaga.
Rangkaian Upacara :
# Sabtu, 22 juni 2013,
Peserta Upacara Adat berkumpul di Babakan Siliwangi.
(Upacara “Mapag Surya“ di Lingga Yoni Wastu Guru Silih Wangi, Pukul 06.00 wib s/d selesai).
# Sabtu, 22 Juni 2013
Pukul 13.00 wib s/d selesai,
Upacara “ Mipit Amit “, yang di laksanakan di
> Kabuyutan Curug Dago – Bandung.
> Kabuyutan Buni Wangi Dago – Bandung.
> Kabuyutan Watu Gunung Pagerwangi – Lembang
# Sabtu, 22 Juni 2013
Pukul 19.00 s/d selesai
Tumpekan ” Nyawang Bulan ” bersama LENTERA NUSANTARA
di laksanakan di Babakan Siliwangi – Bandung.
Upacara Utama :
# Minggu, 23 Juni 2013
Pukul 09.00 wib s/d selesai,
Upacara “Gelar Agung Ngertakeun Bumi Lamba”, akan di laksanakan di Jayagiri Cikole Resort – Lembang (kaki Gn. Tangkuban Parahu)
Upacara Mipit Amit di Buniwangi Tim sukses dari Bumi Dega
Upacara Mipit Amit di Buniwangi
Tim sukses dari Bumi Dega
Mengawang dengan suara alam ketika mereka berbisik ... ah huung
Mengawang dengan suara alam ketika mereka berbisik … ah huung
Pengamat dan Pelaku Budaya Sunda - Bali
Pengamat dan Pelaku Budaya Sunda – Bali
Mari bercocok tanam ... kembali ke alam mencintai semesta menghargai ibu pertiwi
Mari bercocok tanam … kembali ke alam mencintai semesta menghargai ibu pertiwi
Upacara Nyawang Bulan Para sepuh selalu ada mengawasi, melindungi dan menuntun kita ... begitu juga halnya dengan para leluhur kita
Upacara Nyawang Bulan
Para sepuh selalu ada mengawasi, melindungi dan menuntun kita … begitu juga halnya dengan para leluhur kita
Kumpul Saudara :)
Kumpul Saudara :)
Kumpul Saudara :)
Kumpul Saudara :)
KITA BUKANLAH BANGSA YANG HANYA PANDAI MENYEMBAH…NAMUN KITA ADALAH BANGSA YANG HARUS PANDAI MEMPERSEMBAHKAN …SEBAGAI WUJUD TERIMAKASIH KITA KEPADA YANG MAHA KUASA..KEPADA ALAM….TANAH BUMI PEGUNUNGAN DAN HUTAN YANG SUBUR MATA AIR.. ANGIN YANG MENYAPA DAUN DAUN MENGAWINKAN PUTIK BUNGA YANG BERBUAH DAN SUMBER OKSIGEN KITA…CAHAYA MATAHARI API. PENYEMANGAT KEHIDUPAN …UNTUK KITA SEMUA…NGERTAKEUN BUMI LAMBA TANGKUBAN PRAHU PARAHYANGAN 22-23 juni 2013,..RAHAYU SAGUNG DUMADI_/\_
1280_171885966322424_127374092_n
Hasil Karya Yang Maha Kuasa (mana bisa manusia menciptakan bunga)
Hasil Karya Yang Maha Kuasa (mana bisa manusia menciptakan bunga)
Hasil Karya Sang Maha Kuasa di Tata dengan rasa keindahan dan kerapih wujud simbol rasa terimakasih kita kepada hasil bumi Ibu Pertiwi
Hasil Karya Sang Maha Kuasa di Tata dengan rasa keindahan dan kerapih wujud simbol rasa terimakasih kita kepada hasil bumi Ibu Pertiwi
Serbuuuuuuuu ... Peserta menyantap parawanten setelah upacara selesai (Sesajen bukan untuk maraban dedemit/jurig/karuhun, tapi simbol rasa terimakasih kita kepada alam, hasil bumi Ibu Pertiwi toh dimakannya oleh kita lagi kok :)
Serbuuuuuuuu … Peserta menyantap parawanten setelah upacara selesai (Sesajen bukan untuk maraban dedemit/jurig/karuhun, tapi simbol rasa terimakasih kita kepada alam, hasil bumi Ibu Pertiwi toh dimakannya oleh kita lagi kok :)
NUSANTARA NEGRI SABA GUNUNG YANG MAHSYUR..SUBUR MAKMUR TIADA TARA..SUMBER MAKANAN DAN MINUMAN BAHKAN OKSIGEN PARU PARU DUNIA..MENGHIDUPI SEGEMAP NEGRI SEBRANG YANG GERSANG DAN TANDUS…MENGHIDUPI BANGSA BANGSA YANG YANG TAK MAMPU MENGHASILKAN SANDANG DAN PANGAN…..RAHAYU..RAHAYU NUSANTARA JAYA
@ baksil . ngaso sambil memainkan alat musik karinding dan celempung
@ baksil . ngaso sambil memainkan alat musik karinding dan celempung
Lantunan Rajah yang diiringi oleh alat musik celempung (Kang Gin Gin)
Lantunan Rajah yang diiringi oleh alat musik celempung (Kang Gin Gin)
Lantunan Karinding
Lantunan Karinding
Mas Agung begitu menikmati setiap tiupan saat memainkan suling yang di barengi rajah dan celempung oleh Kang Gin Gin
Mas Agung begitu menikmati setiap tiupan saat memainkan suling yang di barengi rajah dan celempung oleh Kang Gin Gin
panata calaga (Kang Iman)
panata calaga (Kang Iman)

catatan:
‘Dalam Upacara ini kami tidak menyembah selain Tuhan Yang Maha Kuasa. Ini lah cara kami berterimakasih kepada Tuhan dan kepada alam yang telah memberi kehidupan. Parawanten dan Dupa hanya simbol keindahan dan wewangian. Sesungguh nya Tuhan mencintai Keindahan dan wewangian.
Rahayu … Jaya Ing Baya .. Jaya Jaya Nuswantara Dwipantara Bhineka Tunggal Ika. Rukun didalam Negara Kertagama .. Silih Asah Silih Asih , Silih Asuh .. jeng Silih Wang i..
Tabe pun,
_/|\_
Rahayu Sagung Dumadi

Sumber:

Sudut Pandang Pikukuh Sunda Tentang Proses Penciptaan & Dinamikanya

262217_155313674538464_3294652_n

— Rangkuman —



Sampurasun ..
1. Pitutur para sepuh tentang proses terjadinya Sunda & Planet Bumi
tahap penciptaan jagat semesta
tahap penciptaan jagat semesta
tahap penciptaan jagat semesta menurut pikukuh Sunda
  • Awalnya Yang Maha Kuasa membentuk “Jagat Suwung”, yaitu ‘sesuatu’ yang gelap, kosong, hening. Tidak ada barat, timur, utara, selatan, singkatnya… sebuah keadaan yang sulit terciptakan (cipta = pikir).
  • Tahap selanjutnya Yang Maha Kuasa menghadirkan suatu suara seperti“Tawon Laksaketi” (berjuta-juta tawon) yang berbunyi “Huuuung…”. Dunia ilmu pengetahuan modern menyebutnya sebagai “Suara Kosmik”.
  • Dari pusat suara munculah jentik-jentik sinar cemerlang “Hyang Putih / Ingyang Putih” sebesar ‘sayap nyamuk’. Dalam bahasa ilmu pengetahuan modern model ini disebut “molekul cahaya”. Semakin lama semakin menggumpal, membesar dan terus membesar.
  • Gumpalan, kumpulan molekul (atom ?) itu semakin lama semakin besar dan memadat maka jadilah “Sang Hyang Tunggal”, sebuah sumber cahaya gemilang yang agung dan suci serta tidak ada bandingnya.
  • Atas kehendaknya (Yang Maha Kuasa ?), Sang Hyang Tunggal memecah dirinya menjadi beberapa bagian dan menyebar di Jagat Suwung. Ilmu pengetahuan modern menyebutnya sebagai “Big Bang”, istilah itu dipelopori oleh Stephen Hawking.
  • Pecahan dari Sang Hyang Tunggal menyebar mengisi Jagat Suwung dan kembali menjadi jentik-jentik sinar yang berpencar. Saat ini kita mengenalnya dalam tiga (3) kelompok : Kartika (Bintang), Surya(Matahari), Chandra (Bulan) atau sering disebut sebagai susunan “Tata Surya”.
  • Salah satu dari milyaran tata surya pengisi Jagat Suwung adalah Mataharikita yang dikelilingi oleh planet-planet, dan planet-planet tersebut pun hasil pemisahan (ledakan) dari Matahari itu sendiri.
  • Maka, Matahari kita itu merupakan putra dari Sang Hyang Tunggal dan atau cucu dari Hyang Putih.
  • Matahari dikenal sebagai Sang Hyang Manon atau lebih populer disebutBatara Guru yang artinya adalah “yang senantiasa memberikan / menyampaikan penerang sebagai cahaya kehidupan (*gerak)”.
2. Arti Kata “Sunda”.
  • Matahari adalah “api sejati yang sangat besar” dan dituliskan dalam susunan kata
                                SU (sejati) – NA (api / geni / agni) – DA (agung / besar / gede) atau sering disebut sebagai SUNDA.
  • Kita dapat menemukan istilah “Sunda” dalam beberapa penamaan seperti;Gunung Sunda (+Purba), Selat Sunda, Sunda-Ra, Kepulauan Sunda Besar – Sunda Kecil, dst. Bahkan seorang filsuf Yunani, Platomenyebutnya sebagai Sunda-Lan atau Ata-Lan atau boleh jadi artinya sama dengan Atlan (Atlantis).
  • Maka, Sunda sama sekali bukan nama sebuah ras atau suku pun etnis, apalagi hanya berupa batas wilayah sebesar Jawa-Barat. Sebab, Sunda merupakan tatanan besar yang berlandas kepada nilai-nilai filosofis “ke-Matahari-an”.
  • Betul bahwa pusat “Sunda” itu ada di Jawa Barat hal tersebut karena keberadaan Gunung Sunda Purba / Gunung Matahari / Gunung Batara Guru / Gunung Cahaya, dalam bahasa Yunani kuno disebut sebagaiGunung Olympia (Olympus = Cahaya) dikenal sebagai tempat tinggal para dewa. Hal ini pula yang menyebabkan mayoritas wilayah di Jawa-Barat menggunakan istilah “Ci” artinya “Cahaya”. Istilah ”Ci” tentu tidak sama dengan “Cai”  yang berarti kemilau yang dipantulkan dari permukaan tirta / banyu / apah / air.
3. Sang Guru Hyang & Da Hyang Sumbi
  • Dari cerita Wayang Purwa dikisahkan bahwa
    • Batara Guru jatuh cinta kepada Batari Uma / Dewi Uma.
    • Batari Uma berobah menjadi Batari Durga & dikawini oleh Batara Kala.
  • Arti kata “Guru” adalah yang selalu bersinar / senantiasa menerangi / pemberi kebenaran. Sedangkan arti kata “Batara” ialah “yang menyampaikan (yang menyinari) gerak kehidupan”.
  • Dalam pikukuh Sunda keluhuran budi-pekerti & dharma bakti agung pada diri seseorang menyebabkan ia layak (disetarakan) sebagai sosok “Guru”. Adapun derajat yang tertinggi dan paling sepuh disebut Sang Guru Hyang(Sang Guriang) yang artinya adalah Saka Guru (Guru yang Tertinggi / Puncak tertinggi dari segala Guru / Cahaya) dan itu sama dengan Mataharidisisi lain hal tersebut maknanya sama dengan “Sunda”.
  • Batari Uma (Ma / Umi / Ambu / Ibu / Umbi / Bumi) sesungguhnya merupakan pecahan dari Matahari (Batara Guru / Sunda), didapat dari hasil ledakan besar yang kemudian bergerak mengeliling Matahari menjadi bagian dari Tata-Surya (Solar System).
  • Batari Uma atau Dewi Uma pada mulanya bersinar terang seperti halnya Batara Guru, namun lama-kelamaan sinarnya semakin padam dan permukaannya berobah menjadi tanah yang bergelombang. Tentu saja hal tersebut akibat ia menjauh dari Matahari (Batara Guru), kejadian itu diumpamakan sebagai “kutukan” Batara Guru kepada Dewi Uma yang kemudian berobah nama menjadi Batari Durga yang buruk rupa.
  • Setelah Dewi Uma kehilangan cahaya dan menjadi Batari Durga maka ia dikawini oleh Batara Kala, yang artinya ialah terkena hukum “waktu” maka terjadilah peristiwa waktu & ruang di planet Bumi.
    • Waktu (Kala) ditentukan oleh Matahari
    • Ruang (Pa) ditentukan oleh Bumi
Namun demikan, walaupun Dewi Uma telah menjadi Batari Durga ia masih mengandung putra dari Batara Guru dan saat ini kita menyebutnya sebagai“Magma” (api yang ada di perut Bumi) yang kelak melahirkan berbagai jenis batuan serta unsur-unsur lainnya sebagai penunjang kehidupan para penduduk Bumi.
Peristiwa tersebut dalam Pikukuh Sunda diabadikan dengan sebutan Bua-Aci(‘buah’-aci) atau lebih dikenal sebagai Sang Hyang Pohaci, yang senantiasa memberikan kesuburan (*kehidupan) kepermukaan tanah. Dari sebutan atau ungkapan tersebut pada saat sekarang membuat kita mengenal istilah “buah”(*phala / pala / pahala) serta istilah “Bua-na” yang kelak berobah menjadi Banua (Benua).
Perobahan dari Dewi Uma menjadi Batari Durga (*karena tertutup tanah) menyebabkan perut Bumi harus dapat mengeluarkan panas Bumi (magma), maka lahirlah sebuah “cerobong raksasa” yang disebut sebagai Gunung Sunda (Gn. Batara Guru).
  • Pada dasarnya Dayang Sumbi itu berasal dari kata Da-Hyang – Su-Umbi , yang artinya :
    • Da = Agung / Besar
    • Hyang = Moyang / Eyang / Biyang / Leluhur / Buyut.
    • Su = Sejati
    • Umbi = Ambu / Ibu
  • Dayang Sumbi mengandung makna: Leluhur Agung Ibu Sejati atau setara dengan sebutan Buana / Ibu Pertiwi / Bumi / Earth.
Maka jika disimpulkan, kisah / legenda Sang Guru Hyang & Da Hyang Su Umbi itu lebih kurang memaparkan tentang kejadian / hubungan antara Matahari & Bumi, keberadaan   “Waktu & Ruang” (Kala & Pa) dan khususnya berceritera tentang “awal kehidupan manusia di muka Bumi” yang intinya menyatakan bahwa “waktu & ruang merupakan hukum kehidupan”.
4. Situmang = Trisula Naga-Ra

Dalam kisah Sang Guru Hyang diceriterakan bahwa Dayang Sumbi pada akhirnya kawin (bersanding) dengan Situmang, yaitu seekor anjing yang membantu membawakan gulungan benang yang terjatuh ketika Dayang Sumbi sedang menenun. Perkawinan mereka menghasilkan sosok Sangkuriang (Sang Guru Hyang).
  • ‘Sangkuriang’ atau sebut saja Sang Guru Hyang yang ke II ini maknanya adalah kelahiran Negeri Matahari (Dirgantara) sebagai pusat Keratuan / Keraton Dunia, atau kelahiran pola ketata-negaraan yang pertama di dunia yang ditandai oleh Gunung Sunda Purba atau Gn. Matahari / Gn. Batara Guru. Saat ini tersisa sebagai Gn. Tingkeban Pa-Ra-Hu, dan sekarang kita menyebutnya sebagai Gn. Tangkuban Parahu.
Setelah keberadaan wilayah beserta penduduknya, bentuk kemasyarakatan diawali dengan adanya Tata / Aturan / Hukum yang berupa Tri Su La Naga-Ra (Tiga Kesejatian Hukum pada sebuah Negara), atau dalam silib & siloka SITUMANG yaitu terdiri dari :
-          Rasi / Datu berkedudukan sebagai pengelola kebajikan, wilayahnyadisebut “Karesian / Kadatuan atau Kedaton”.
-          Ratu berkedudukan sebagai pengelola kebijakan, wilayahnya disebutKeratuan / Keraton.
-          Rama berkedudukan sebagai pembentuk kebijakan dan kebajikan, wilayahnya disebut “karamat” atau sering disebut sebagai “kabuyutan” atauwilayah para leluhur / luhur / gunung (*?) = (tanah suci).
-          Hyang merupakan sumber ajaran kebijakan dan kebajikan, wilayahnya disebut Pa-Ra-Hyang.
Trisula Negara
Trisula Negara = Tiga Hukum Yang Sejati
Trisula Negara = Tiga Hukum Yang Sejati
Adapun sosok binatang “anjing” merupakan metafora atau perumpamaan dari watak “kesetiaan”. Simbolisasi tersebut tentu sangat sesuai dengan kenyataan yang berlaku dan layak dipergunakan sebagai pola tanda seperti halnya Sang Hyang Gana (Ganesha) yang mempergunakan siloka “gajah”, ataupun konsep pemerintahan yang dilambangkan dalam bentuk “harimau” (mang / hitam – ang/merah  – ung/putih = maung).
5. Awal Kenegaraan Dunia “Layang Saloka Domas & Saloka Nagara”
Secara logika tentu awal keberadaan sebuah negara harus memenuhi beberapa syarat, yaitu : kepastian hukum, keberadaan wilayah, masyarakat, aparatur pemerintahan, serta pengakuan. Tanpa salah-satunya terpenuhi maka tidak layak disebut sebagai sebuah negara.
Maka demikian pula dengan kelahiran pemerintahan ditatar Sunda yang konon (*berdasarkan catatan sejarah yang ada hingga saat ini) diawali dengan adanya sebuah Keratuan yang bernama “Salokanagara / Salakanagara”. Tentu ‘kerajaan’ tersebut mustahil ada jika tidak diawali oleh adanya “nilai-nilai ajaran” yang menjadi sebuah peraturan / hukum. Itu sebabnya masyarakat kita mengenal istilah “Layang Saloka Domas” yang artinya :
-          La = Hukum
-          Hyang = Leluhur
-          Sa = Esa / Tunggal / Satu
-          Loka = Tempat / Wilayah
-          Domas = Tidak Terhingga / invinity / 8
Arti keseluruhannya ialah :  Kesatuan Wilayah Hukum Leluhur (yang) Tidak Terhingga.

Adapun Saloka Nagara pada dasarnya merupakan wilayah kekuasaan hukum yang sangat besar. Sa-Loka Naga-Ra (*Salaka Nagara ?) artinya adalah :
–      Sa = Esa / Tunggal / Satu
–      Loka = Tempat / Wilayah
–      Naga = *…lambang penguasa darat & laut (samudra).
–      Ra = Matahari
Saloka Naga-Ra berarti : Kesatuan Wilayah Kekuasaan Darat & Laut (negeri) Matahari.

6. Aki ‘Tirem’
Menyentuh jaman Saloka Nagara tentu tidak terlepas dari keberadaan Aki Tiremyang mempunyai makna sebagai berikut;
–      Aki = Leluhur / Kokolot / Sesepuh / Tohaan / Tuhaan (‘Tuhan’).
–      ‘Tirem’ = (…………beberapa kemungkinan arti) :
  • Tarum / Taru-Ma (Kalpataru / pohon hayat / kehidupan).
  • Ti-Rum / Rumuhun
  • Ti-Ram / Rama
Jika “Tirem” itu adalah kata lain dari “Taru-Ma” (*taru = tree / pohon, dan ma = uma / bumi / ambu / ibu) maka istilah “Aki Tirem / Taruma” bisa mengandung makna sebagai “Pohon keluarga para leluhur Bumi”.
Tabe Pun, Rahayu Sagung Dumadi _/|\_

Sumber: